Seperti biasanya (tapi tidak akan pernah membosankan), aku sudah berada lagi di pinggir laut. Sore sekali. Tapi tidak seperti biasanya, aku duduk lagi disini setelah beberapa waktu tak pernah. Entah kenapa. Yang jelas, matahari tampak bulat, menyisakan hanya dua warna diatas air laut, hijau gelap dan emas. Kuharap matahari tidak menyadari kehadiranku, tapi ternyata aku keliru...
M : Hey, nak...
R : [Senyum datar] Halo, matahari
M : Tumben minum sara'ba, mana nih Rumnya, Reggae wannabe ?
R : Hahaha...
M : Dari mana aja kau, Randy?
R : [Sambil memperbaiki posisi duduk] Kemaren kemaren ada percobaan pembunuhan
M : Again ? ck..ck..ck..
R : Yeah, but I survived kok, no big deal
M : Wanna hug ?
R : Hahahaha... no thanks
Diam sejenak. Aku memperhatikan seorang laki laki meminjam gitar dari pengamen, dan menyanyikan lagu buat pacarnya yang cuma bisa memaksakan ekspresi terkesima dan kagum. Nice trick. Matahari menatapku seperti seorang ibu menemukan anaknya yang sudah bertahun tahun hilang. Sara'ba betul betul tidak enak.
Sendalku jatuh ke laut. Melihat seorang bapak yang lewat. Bapak itu tersenyum padaku. Tak mengerti apa maksudnya, aku balas senyum juga, menjadi ramah adalah sangat ngepunk...
M : Gimana kerjaan ?
R: Saya gak pernah bekerja, Saya berfungsi
M : Anarkis palsu...
R : Yoi dongs, Saya kan skinhead
M : Kalo gitu, nyanyiin saya Oasis
R: Tapi saya bukan penyanyi, tolol ! [memasukkan botol kosong ke dalam ransel]
M : Penyanyi tolol ? Tentu saja bukan. Kau cuma terlihat tolol. Dan itu gak bagus
R : Selama itu masih ngetrend, lakonin aja. Terlihat tolol supaya kesannya menyembunyikan sesuatu. Misterius ala 2011. Rambut Einstein ? Kumis Hitler ? Kesan tolol itu perlu buat orang orang yang merasa dirinya hebat. Dan itu yang ditiru orang sekarang
M : Nabi Muhammad gak pernah mau wajahnya dilukis... itu artinya ?
R : Underground ANTI RIBA !
M : Hahaha...
Pembicaraan terhenti. Seseorang yang kuingat wajahnya namun lupa namanya, mencolek dari belakang. Basa basi sejenak, aku berdiri. Seakan paham kalau aku hendak pergi, diapun pergi. Baru dua langkah dia bergerak, aku duduk lagi. Dijamin orang itu tersinggung, sayangnya aku tak perduli. Matahari tertawa. Aku ketawa juga. Menyenangkan...
M : Kau sakit, anakku... kau perlu psikiater
R: Saya perlu cinta, seperti tetes tetes hujan, perlu sinarmu untuk membuat pelangi
Dan semua yang mendengar kalimatku tadi, tertawa. Aku juga. Matahari juga. Sangat menyenangkan. Tertawa itu menyenangkan...
M : Okey, puisi boy... Time's up. Saya harus menyelam ke laut. Besok kesini lagi yah !
R : Iya...misscall saja
M : And watch your girlfriend habit. I don't want to see you in the sky, naked, playing harpa on a little cloud
F : Fuck you too... I love my girlfriend...not killing myself
M : Baguslah
Matahari lalu melakukan apa yang setiap hari ia lakukan. Tak pernah ada yang bosan melihatnya begitu. Masuk ke dalam laut, tanpa bunyi mendesis.... di saat seperti inilah orang menyadari jika ternyata rotasi bumi itu cepat. Beberapa saat sebelum matahari lenyap, aku memberanikan diri...
R : Hey...
M : Ya ?
R: Thanks...
M : No problem [dengan aksen Johnny Rotten]
Aku beranjak. Matahari sudah hilang, belok di lekukan bumi. Tapi langit masih jauh dari gelap...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar