Musim hujan tahun ini, jauh lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Mengapa begitu ? Karena kota Makassar semakin maju saja. Infrastrukturnya semakin lengkap, megah, dan inovatif. Salah satu karya nyata institusi pengelola kota ini, adalah keberhasilan mereka membuat banyak trotoar, menghilangkan keberadaan tanah atau pasir di pinggir jalan yang mengganggu keindahan kota sekaligus sumber debu di jalan raya. Terima kasih buat trotoarnya, pak. Sayang masih terlalu banyak baliho di atasnya, yang justru mengganggu pejalan kaki dan merusak pemandangan.
Tapi memang, fungsi trotoar bukan hanya milik pejalan kaki saja. Pada ruas-ruas jalan dimana aspal dan trotoarnya sudah rapat, dan tak ada lagi tanah di pinggir jalan, apabila terjadi hujan, air yang menggenang dan membanjiri jalan sudah tidak berwarna cokelat atau keruh seperti dulu. Karena bila air hujan yang jatuh di aspal tak lagi terkontaminasi oleh tanah atau pasir, maka genangan air dan banjir menjadi bening. Itu berarti, semua lubang di jalanan akan tetap terlihat. Para pengendara dan pengguna jalan raya tak perlu lagi takut terjerembab ke dalam lubang-lubang di air keruh.
Diharapkan di masa depan, tak akan ada lagi kecelakaan yang disebabkan oleh lubang di jalan yang tersamarkan oleh banjir. Karena kini, lubang di jalanan sudah bukan lagi misteri. Mereka sudah bisa terlihat dari jarak yang relatif jauh, sehingga menjadi mudah bagi para pengguna jalan untuk menghindarinya. Dengan begitu, tingkat kecelakaan akan berkurang, disamping biaya perawatan atau perbaikan kendaraan juga bisa ditekan, yang berarti penghematan biaya hidup yang cukup signifikan.
Apalagi kalau tahun depan lampu-lampu penerangan jalan mulai berfungsi, maka kita masyarakat kota ini akan bisa menghindari lubang-lubang di jalanan dengan sama mudahnya, baik malam maupun siang hari. Dan apabila kebiasaan ini berlanjut terus, bahkan hingga turun temurun, niscaya penduduk kota ini akan berevolusi menjadi masyarakat yang "jago menghindar".
Tulisan ini dibuat berdasarkan asumsi sederhana : Lubang-lubang di jalan kota ini seakan tak pernah membaik. Mereka cenderung mengaspal jalanan yang tidak rusak, dan tidak mengaspal jalanan yang rusak. Entah mengapa. Mungkin itulah politik praktis ala Indonesia yang penuh hutang piutang dan balas jasa. Kualitas jalan di kota ini mungkin hanya satu contoh kecil, diantara ribuan bentuk pelayanan yang menurun mutunya karena politik berbiaya tinggi.
Tidak masalah. Tidak masalah sama sekali. Yang jelas, apabila di tahun 2014 nanti pemilu masih menggunakan metode "mencari dana untuk membeli suara" seperti saat ini, maka kami berhak menuntut agar tank atau panser bisa dijadikan kendaraan pribadi.
Bagi yang belum akrab dengan kota Makassar, lubang-lubang di jalan raya adalah identitas utama kota ini, setelah coto dan Sultan Hasanuddin. Sedangkan banjir adalah fenomena lazim pada hampir semua kota pseudo-metropolis di seluruh Indonesia, termasuk juga di sini