Sabtu, 10 Desember 2011
Hanya di www.pahlawantanpaijazah.blogspot.com
Saya sudah terlalu banyak menghisap puisi hari ini. Saking banyaknya, saya tidak mampu lagi menulis cerita. Blogger Sialan ! Saya sudah sudah terlalu banyak mempuisikan cerita hari ini. Saking banyaknya, saya tidak mampu lagi menulis hisap. Blogger Sialan ! Puisi sudah terlalu banyak menulis cerita hari ini. Saking banyaknya, saya tidak mampu lagi menghisap saya. Blogger Sialan ! Saya sudah terlalu banyak menghisap Blogger hari ini. Saking banyaknya, cerita tidak mampu lagi menulis saya . Puisi Sialan ! Blogger sudah terlalu banyak menghisap saya hari ini. Saking banyaknya, saya tidak mampu lagi menulis puisi cerita. Sialan
EGONYENTRIK
Selama ini
Aku percaya kalau sebuah headset
Bisa membantu memberi ketidakperdulian
Pada suara-suara di sekitarku
Tapi ternyata
Sebuah headset bisa lebih dari sekedar ketidakperdulian
Bila ia punya microphone kecil yang menempel di sisinya...
Aku bahkan bisa mendengar
Diriku berbicara pada dirinya sendiri
Aku percaya kalau sebuah headset
Bisa membantu memberi ketidakperdulian
Pada suara-suara di sekitarku
Tapi ternyata
Sebuah headset bisa lebih dari sekedar ketidakperdulian
Bila ia punya microphone kecil yang menempel di sisinya...
Aku bahkan bisa mendengar
Diriku berbicara pada dirinya sendiri
TOKO SUDAH TUTUP
Jika seseorang ingin berhenti menulis puisi
Apakah ia harus menulis "puisi terakhir" ?
Semacam kata-kata perpisahan atau sejenisnya ?
Apakah puisi terakhir itu ?
Apakah seperti puisi ini ?
[...I hate when things are over - DeepBlueSomething-]
Kamis, 08 Desember 2011
SORE
Sore..
Taman kota, kadang di kampung..
menumpang motor teman hingga angkot yang terjebak macet
Sore..
Catatan kemarahan dan hadiah cerita gratis dari kenalan baru
imajinasi, cinta dan sedikit keras kepala
Sore..
Tarian penyambut malam
jejak-jejak yang tertinggal sebagai kado kebosanan untuk pagi harinya
Sore..
Mewujudkan mimpi
menuntut sesuatu yang tak mungkin
meruntuhkan ketakutan
mencintai api-api kecil dari setiap gesekan panas badan bumi..
Sore..
Sisa rintik hujan diujung switer abu-abu polosku yang tak sempat tercuci hampir dua bulan lebih..
Senin, 05 Desember 2011
Cari dan Curi :)
Dia berkeluh kesah tentang hidupnya yang susah. Keluarganya yang miskin. Pendidikannya yang tidak seberapa. Pekerjaannya yang tak ada. Dan keuangan yang selalu menjadi masalah. Tapi dia punya satu hal yang selalu bisa dibanggakan kemanapun dia pergi. Loyalitas. Itu yang dia bilang tadi sore, melengkapi rasa terimakasihnya pada "teman-teman terakhirnya". Dia bilang, "cuma disini saya diterima, dimana mana saya dianggap terlalu jahat". Sambil menjilat sloki yang hampir kering, dia menutup kisahnya, "kalo saya ndak main disini, mungkin saya sudah dipenjara lagi".
Menjelang subuh beberapa jam kemudian, seorang teman yang tiba-tiba terbangun, memergokinya sedang membongkar ransel orang. Dan keesokan paginya, sebuah handphone lenyap bersama si miskin yang loyal itu. Semua orang memaki dan merasa tertipu. Sebagian memilih untuk melapor polisi. Saya memilih pergi saja. Dalam hati saya tersenyum, "Curilah apapun dari siapapun yang lengah, karena sejak lahir kita sudah diajar begitu... Bila bukan kita yang lengah, maka kitalah pencurinya".
Rasa percaya adalah produk moral, bukan kenyataan...
#plug N play "National Thieft - Mc5"
RUTINITAS
Andaikan kita bisa melompat dari atap gedung tertinggi, hanya untuk tahu bagaimana rasanya melayang tanpa pertolongan. Mungkin rasa bosan ini bisa sedikit berkurang. Sedikit saja berkurang, sudah banyak berarti buat saya.
Beberapa orang pernah bilang, jantung saya kurang kuat untuk hal-hal yang berbau extreme Sport. Kenyataannya, setiap kali merasa kaget, justru lever saya yang ngilu. Paru-paru sih selalu santai saja, apapun yang terjadi.
Dalam badan, rutinitas adalah biasa. Detak jantung adalah rutinitas. Paru-paru bereaksi terhadap asap juga rutinitas. Gerak-gerik peristaltik pun rutinitas. Decak liver yang memaklumi ampas soda di ginjal yang lagi tepar, itu juga. Rutinitas.
Rutinitas memaksa kita untuk tetap hidup. Juga membuat sebagian orang bunuh diri. Saya cuma ingin melayang layang sebentar tanpa ada janji apapun yang harus ditepati. Dan itu sebaiknya dilakukan sendirian..
Beberapa orang pernah bilang, jantung saya kurang kuat untuk hal-hal yang berbau extreme Sport. Kenyataannya, setiap kali merasa kaget, justru lever saya yang ngilu. Paru-paru sih selalu santai saja, apapun yang terjadi.
Dalam badan, rutinitas adalah biasa. Detak jantung adalah rutinitas. Paru-paru bereaksi terhadap asap juga rutinitas. Gerak-gerik peristaltik pun rutinitas. Decak liver yang memaklumi ampas soda di ginjal yang lagi tepar, itu juga. Rutinitas.
Rutinitas memaksa kita untuk tetap hidup. Juga membuat sebagian orang bunuh diri. Saya cuma ingin melayang layang sebentar tanpa ada janji apapun yang harus ditepati. Dan itu sebaiknya dilakukan sendirian..
Minggu, 04 Desember 2011
Sabtu, 03 Desember 2011
Maleslah
I never meant to hurt you, I never meant to lie...so this is goodbye...[Moby - Porcelain]
Orang orang di sekitarku
Yang selama ini tak berguna
Sekarang kemana semua mereka ?
Aku sangat butuh bicara
Bicara apapun
Aku ingin anggap mereka sebagai teman
Dan ceritakan apa yang mereka tak butuh untuk tahu
Tapi teramat perlu keluar dari kepalaku
Bila kudatang hanya pada saat susah
Apa bukan orang yang baik ?
Terserahlah, asal ada yang bisa kuajak bicara
Katanya, bicara pada orang lain
Bisa membuat luka luka dalam badan
Jadi lebih cepat kering
Aku baru lakukan ketololan yang sama
Merobek lagi bekas luka
Hambur hamburkan darah... ahhhh maleslah
Orang orang di sekitarku
Yang selama ini tak berguna
Sekarang kemana semua mereka ?
Aku sangat butuh bicara
Bicara apapun
Aku ingin anggap mereka sebagai teman
Dan ceritakan apa yang mereka tak butuh untuk tahu
Tapi teramat perlu keluar dari kepalaku
Bila kudatang hanya pada saat susah
Apa bukan orang yang baik ?
Terserahlah, asal ada yang bisa kuajak bicara
Katanya, bicara pada orang lain
Bisa membuat luka luka dalam badan
Jadi lebih cepat kering
Aku baru lakukan ketololan yang sama
Merobek lagi bekas luka
Hambur hamburkan darah... ahhhh maleslah
Hi mates
Seperti biasanya (tapi tidak akan pernah membosankan), aku sudah berada lagi di pinggir laut. Sore sekali. Tapi tidak seperti biasanya, aku duduk lagi disini setelah beberapa waktu tak pernah. Entah kenapa. Yang jelas, matahari tampak bulat, menyisakan hanya dua warna diatas air laut, hijau gelap dan emas. Kuharap matahari tidak menyadari kehadiranku, tapi ternyata aku keliru...
M : Hey, nak...
R : [Senyum datar] Halo, matahari
M : Tumben minum sara'ba, mana nih Rumnya, Reggae wannabe ?
R : Hahaha...
M : Dari mana aja kau, Randy?
R : [Sambil memperbaiki posisi duduk] Kemaren kemaren ada percobaan pembunuhan
M : Again ? ck..ck..ck..
R : Yeah, but I survived kok, no big deal
M : Wanna hug ?
R : Hahahaha... no thanks
Diam sejenak. Aku memperhatikan seorang laki laki meminjam gitar dari pengamen, dan menyanyikan lagu buat pacarnya yang cuma bisa memaksakan ekspresi terkesima dan kagum. Nice trick. Matahari menatapku seperti seorang ibu menemukan anaknya yang sudah bertahun tahun hilang. Sara'ba betul betul tidak enak.
Sendalku jatuh ke laut. Melihat seorang bapak yang lewat. Bapak itu tersenyum padaku. Tak mengerti apa maksudnya, aku balas senyum juga, menjadi ramah adalah sangat ngepunk...
M : Gimana kerjaan ?
R: Saya gak pernah bekerja, Saya berfungsi
M : Anarkis palsu...
R : Yoi dongs, Saya kan skinhead
M : Kalo gitu, nyanyiin saya Oasis
R: Tapi saya bukan penyanyi, tolol ! [memasukkan botol kosong ke dalam ransel]
M : Penyanyi tolol ? Tentu saja bukan. Kau cuma terlihat tolol. Dan itu gak bagus
R : Selama itu masih ngetrend, lakonin aja. Terlihat tolol supaya kesannya menyembunyikan sesuatu. Misterius ala 2011. Rambut Einstein ? Kumis Hitler ? Kesan tolol itu perlu buat orang orang yang merasa dirinya hebat. Dan itu yang ditiru orang sekarang
M : Nabi Muhammad gak pernah mau wajahnya dilukis... itu artinya ?
R : Underground ANTI RIBA !
M : Hahaha...
Pembicaraan terhenti. Seseorang yang kuingat wajahnya namun lupa namanya, mencolek dari belakang. Basa basi sejenak, aku berdiri. Seakan paham kalau aku hendak pergi, diapun pergi. Baru dua langkah dia bergerak, aku duduk lagi. Dijamin orang itu tersinggung, sayangnya aku tak perduli. Matahari tertawa. Aku ketawa juga. Menyenangkan...
M : Kau sakit, anakku... kau perlu psikiater
R: Saya perlu cinta, seperti tetes tetes hujan, perlu sinarmu untuk membuat pelangi
Dan semua yang mendengar kalimatku tadi, tertawa. Aku juga. Matahari juga. Sangat menyenangkan. Tertawa itu menyenangkan...
M : Okey, puisi boy... Time's up. Saya harus menyelam ke laut. Besok kesini lagi yah !
R : Iya...misscall saja
M : And watch your girlfriend habit. I don't want to see you in the sky, naked, playing harpa on a little cloud
F : Fuck you too... I love my girlfriend...not killing myself
M : Baguslah
Matahari lalu melakukan apa yang setiap hari ia lakukan. Tak pernah ada yang bosan melihatnya begitu. Masuk ke dalam laut, tanpa bunyi mendesis.... di saat seperti inilah orang menyadari jika ternyata rotasi bumi itu cepat. Beberapa saat sebelum matahari lenyap, aku memberanikan diri...
R : Hey...
M : Ya ?
R: Thanks...
M : No problem [dengan aksen Johnny Rotten]
Aku beranjak. Matahari sudah hilang, belok di lekukan bumi. Tapi langit masih jauh dari gelap...
M : Hey, nak...
R : [Senyum datar] Halo, matahari
M : Tumben minum sara'ba, mana nih Rumnya, Reggae wannabe ?
R : Hahaha...
M : Dari mana aja kau, Randy?
R : [Sambil memperbaiki posisi duduk] Kemaren kemaren ada percobaan pembunuhan
M : Again ? ck..ck..ck..
R : Yeah, but I survived kok, no big deal
M : Wanna hug ?
R : Hahahaha... no thanks
Diam sejenak. Aku memperhatikan seorang laki laki meminjam gitar dari pengamen, dan menyanyikan lagu buat pacarnya yang cuma bisa memaksakan ekspresi terkesima dan kagum. Nice trick. Matahari menatapku seperti seorang ibu menemukan anaknya yang sudah bertahun tahun hilang. Sara'ba betul betul tidak enak.
Sendalku jatuh ke laut. Melihat seorang bapak yang lewat. Bapak itu tersenyum padaku. Tak mengerti apa maksudnya, aku balas senyum juga, menjadi ramah adalah sangat ngepunk...
M : Gimana kerjaan ?
R: Saya gak pernah bekerja, Saya berfungsi
M : Anarkis palsu...
R : Yoi dongs, Saya kan skinhead
M : Kalo gitu, nyanyiin saya Oasis
R: Tapi saya bukan penyanyi, tolol ! [memasukkan botol kosong ke dalam ransel]
M : Penyanyi tolol ? Tentu saja bukan. Kau cuma terlihat tolol. Dan itu gak bagus
R : Selama itu masih ngetrend, lakonin aja. Terlihat tolol supaya kesannya menyembunyikan sesuatu. Misterius ala 2011. Rambut Einstein ? Kumis Hitler ? Kesan tolol itu perlu buat orang orang yang merasa dirinya hebat. Dan itu yang ditiru orang sekarang
M : Nabi Muhammad gak pernah mau wajahnya dilukis... itu artinya ?
R : Underground ANTI RIBA !
M : Hahaha...
Pembicaraan terhenti. Seseorang yang kuingat wajahnya namun lupa namanya, mencolek dari belakang. Basa basi sejenak, aku berdiri. Seakan paham kalau aku hendak pergi, diapun pergi. Baru dua langkah dia bergerak, aku duduk lagi. Dijamin orang itu tersinggung, sayangnya aku tak perduli. Matahari tertawa. Aku ketawa juga. Menyenangkan...
M : Kau sakit, anakku... kau perlu psikiater
R: Saya perlu cinta, seperti tetes tetes hujan, perlu sinarmu untuk membuat pelangi
Dan semua yang mendengar kalimatku tadi, tertawa. Aku juga. Matahari juga. Sangat menyenangkan. Tertawa itu menyenangkan...
M : Okey, puisi boy... Time's up. Saya harus menyelam ke laut. Besok kesini lagi yah !
R : Iya...misscall saja
M : And watch your girlfriend habit. I don't want to see you in the sky, naked, playing harpa on a little cloud
F : Fuck you too... I love my girlfriend...not killing myself
M : Baguslah
Matahari lalu melakukan apa yang setiap hari ia lakukan. Tak pernah ada yang bosan melihatnya begitu. Masuk ke dalam laut, tanpa bunyi mendesis.... di saat seperti inilah orang menyadari jika ternyata rotasi bumi itu cepat. Beberapa saat sebelum matahari lenyap, aku memberanikan diri...
R : Hey...
M : Ya ?
R: Thanks...
M : No problem [dengan aksen Johnny Rotten]
Aku beranjak. Matahari sudah hilang, belok di lekukan bumi. Tapi langit masih jauh dari gelap...
My life according to MORRISMITHS
Ini
Tak ada lagi batas untuk diruntuhkan, tak ada lagi mata rantai untuk dipatahkan, selain pikiranku sendiri. Kemabukan yang begitu tenang: hasrat untuk hidup bebas, mencinta dan melarikan diri. Mimpi-mimpi telah mendahagakan diri akan harapan, menggigit dan menekan hidup. Interlude yang menggeliat, gerak yang melilit jemari. Tangan yang meremas lembut dalam genggaman. Melepaskan orgasme kemerahanmu lebih daripada aksi apapun. Cinta tak akan terdefinisikan, begitu subtil.
Maka saat itulah affair cintaku dengan sebuah spirit yang tak bernama semangat pagi !!
Maka saat itulah affair cintaku dengan sebuah spirit yang tak bernama semangat pagi !!
Kenangan Cinta Marvin, Si Robot Murung
"Marvin I love you Marvin I love you" Marvin tidak yakin pernah mendengar suara itu sebelumnya, dan dia juga tidak percaya ia sedang mendengar suara itu –saat ini. Karena sebagai sebuah robot yang murung dia tidak pernah benar-benar bisa mendengar, melihat, merasa, berbicara, bahkan berpikir sekalipun. Yang lebih buruk lagi, dia tidak bisa mengingat tombol mana yang baru saja ia tekan. Lalu ia mencoba menekan tombol-tombol yang ada secara acak dan tiba-tiba: "Marvin I love you Marvin I love you Remember I'm programmed for you I know we're worlds apart Still you could break my heart Loving you is all I can do" Saat itu ia baru benar-benar merasa yakin telah mendengar suara yang keluar. Sudah tidak diragukan lagi! Tapi… Suara siapakah itu? Siapa yang mengucapkannya? Apakah ia sebuah robot juga? Atau sesosok bentuk kehidupan dari masa lalu, ketika ia masih muda dan masih ada beberapa orang yang berusaha menyukainya? Dia sama sekali tidak mengetahuinya. Jadi dia berusaha menekan beberapa tombol lagi: "Marvin I love you Marvin I love you" Suara itu lagi. "I've tried to contact you, Marvin I don't know why, but you never replied. Perhaps one day you'll answer, But until then I guess I'll keep on trying." "But that does not compute," pikir Marvin dengan depresinya. Sejak saat itu, ia bisa mendengarkan suara-suara itu kapan pun, sambil terus mencoba memikirkan apa yang sudah ia lewatkan selama ini, dan terus hidup... selamanya dalam kesengsaraan. Kutipan : Sayap Imaji :) |
Surat Keluhan
Kemarin baik baik saja
Panas dingin pun tak mengapa
Dan persetan apa yang kau baca
Itu bukanlah segalanya
Satu dua murid mulai berpikir
Sebagiannya lagi mulai berimajinasi
Apa yang kau kejar?
Tulisan Dr. diantara Muhammad di namamu
Ahh.....bagiku kalian hanya piranti membosankan diantara 3 kelas
Dasar Pengadah Nilai
Pemburu Ranking
Pejilat Buku
*berjalan pulang sambil bersiul
#Plug N Play "Diam - Pemuda Garis Depan"
Panas dingin pun tak mengapa
Dan persetan apa yang kau baca
Itu bukanlah segalanya
Satu dua murid mulai berpikir
Sebagiannya lagi mulai berimajinasi
Apa yang kau kejar?
Tulisan Dr. diantara Muhammad di namamu
Ahh.....bagiku kalian hanya piranti membosankan diantara 3 kelas
Dasar Pengadah Nilai
Pemburu Ranking
Pejilat Buku
*berjalan pulang sambil bersiul
#Plug N Play "Diam - Pemuda Garis Depan"
Selalu Saja Begitu
Di saat saat seperti ini
Suara suara dalam kepala seperti
Bisa menyelesaikan semua masalah
Optimisme datang terlambat
Selalu saja begitu
Tengah malam
Di trotoar jalan protokol yang terinjak harga dirinya
Oleh tukang becak mabuk yang tak perduli lagi pada rambu
Aku masih bisa terduduk, memeluk lutut sendiri
Di saat saat seperti ini
Aku tak ingin bicara pada siapapun
Suara suara dalam kepala seperti
Mengajakku menyendiri
Aku punya cukup teman dalam kepalaku
Selalu saja begitu
Dan katanya hidup ini absurd
Terpatah patah
Full of flashback and discontinuity
Orang sekarang bilangnya Pulp Fiction
Orang dulu lebih suka menyebutnya "takdir"
Lalu kenapa ?
Masalahnya dimana ?
Jika ternyata si tukang becak mabuk tadi
Tiba-tiba digebuki patroli
Apa aku terlibat dalam selembar takdir mereka ?
Haha, aku mulai membingungkan ?
Ya, saat aku kebingungan
Aku menjadi terlihat sedih
Selalu saja begitu
Di saat saat seperti ini
Suara suara dalam kepala seperti
Bisa menyelesaikan semua masalah
Dan aku tak ingin bicara pada siapapun
Bahkan pada suara suara dalam kepalaku sendiri
Aku tak punya masalah
Aku hanya terlihat sedih
Optimisme datang terlambat lagi
Begitu saja selalu... -___-
Suara suara dalam kepala seperti
Bisa menyelesaikan semua masalah
Optimisme datang terlambat
Selalu saja begitu
Tengah malam
Di trotoar jalan protokol yang terinjak harga dirinya
Oleh tukang becak mabuk yang tak perduli lagi pada rambu
Aku masih bisa terduduk, memeluk lutut sendiri
Di saat saat seperti ini
Aku tak ingin bicara pada siapapun
Suara suara dalam kepala seperti
Mengajakku menyendiri
Aku punya cukup teman dalam kepalaku
Selalu saja begitu
Dan katanya hidup ini absurd
Terpatah patah
Full of flashback and discontinuity
Orang sekarang bilangnya Pulp Fiction
Orang dulu lebih suka menyebutnya "takdir"
Lalu kenapa ?
Masalahnya dimana ?
Jika ternyata si tukang becak mabuk tadi
Tiba-tiba digebuki patroli
Apa aku terlibat dalam selembar takdir mereka ?
Haha, aku mulai membingungkan ?
Ya, saat aku kebingungan
Aku menjadi terlihat sedih
Selalu saja begitu
Di saat saat seperti ini
Suara suara dalam kepala seperti
Bisa menyelesaikan semua masalah
Dan aku tak ingin bicara pada siapapun
Bahkan pada suara suara dalam kepalaku sendiri
Aku tak punya masalah
Aku hanya terlihat sedih
Optimisme datang terlambat lagi
Begitu saja selalu... -___-
NO LOVE, NO HATE, JUST SCHOOL
Gelas kosong
Plastik bungkus roti
Kasir Mini Market
Plastik bungkus roti
Kasir Mini Market
Klakson angkot yang warna warni
Memuakkan
Mengintip keluar jendela
Semua orang mulai berlari
Menabrakkan diri mereka kesana kemari
Terlalu pagi untuk menjadi tamak
Apa benar hidup ini keras ?
Atau kita yang membuatnya nampak seperti itu ?
15 menit yang lalu aku melihatnya di perempatan
Tersenyum padaku sambil memegang kericikan
"Kakak mau kemana ?sekolah ?", ramah sekali ia bertanya
Padahal baginya, akulah si tamak yang keluar pagi
Memuakkan
Mengintip keluar jendela
Semua orang mulai berlari
Menabrakkan diri mereka kesana kemari
Terlalu pagi untuk menjadi tamak
Apa benar hidup ini keras ?
Atau kita yang membuatnya nampak seperti itu ?
15 menit yang lalu aku melihatnya di perempatan
Tersenyum padaku sambil memegang kericikan
"Kakak mau kemana ?sekolah ?", ramah sekali ia bertanya
Padahal baginya, akulah si tamak yang keluar pagi
Dan tak mau berbagi kursiSama seperti orang orang yang kumaki sekarang ini
Sekarang pertanyaannya
Dimana kalian berdiri ?
Karena tema ini memang rumit berbelit
Ketamakan tidak mengenal istilah "pagi"
Sekarang pertanyaannya
Dimana kalian berdiri ?
Karena tema ini memang rumit berbelit
Ketamakan tidak mengenal istilah "pagi"
Senin, 14 November 2011
Angka Yang Baru Hari Yang Sama 11/11/11
Apa tidak sebaiknya kita semua berangkat tidur saat pagi menjelang terbit ? Karena waktu matahari menyengat adalah waktu yang sempurna untuk itu. Siang hari sudah jelas bukan saat yang baik untuk hidup. Mungkin karena orang jadi lebih cepat lelah dan marah. Sebaiknya digunakan untuk tidur. Percayalah dan bangunlah sore hari. Udara berwarna bila senja. Kadang jingga, kadang dinding putih terlihat seperti jeruk. Di sore hari, semua terlihat lebih indah. Seperti suara lembut ibu bangunkan kelopak mata anaknya yang bernama Psikedelia. Percayalah, sebab malam adalah saatnya semua lampu menyala. Termasuk lampu dalam diri manusia. Kegelapan cukup tebal untuk bisa meredam hiruk kehidupan dan pikuk kesibukan semua orang. Kelelahan tidak begitu terasa hingga saatnya ia harus terasa. Saat pagi menjelang terbit dan kita sebaiknya mulai tertidur.
Semoga tahun depan siklus hidup manusia berubah.
Sabtu, 12 November 2011
New 7 Icons
Tak banyak hal yang akan saya bisa bagi tentang kemenangan si Sikomo ehh maksud saya Komodo cuman tulisan atau bualan atau apalah :
Komodo yang malang, bertahan hidup jutaan tahun hanya untuk menjadi tontonan makhluk baru bernama "manusia".
-Nasionalisme Dangkal-
Jumat, 11 November 2011
lulabi
tahukah kalian basa-basi yang paling basi hari ini ? “baru belajar mohon kritik dan sarannya.” kedengaran seperti 3 jam jatuh cinta 3 jam berikutnya patah hati. persis ababil yang mengoceh tentang cinta, kayak kera. persetanlah !
Quis
Kuis :
Siapa sih yang butuh tenaga kerja untuk dieksploitasi? Siapa yang harus bayar sekolah supaya kelak bisa dieksploitasi?
a. kelas pekerja
b. kelas kapitalis
c. preman
d. ustad
a. kelas pekerja
b. kelas kapitalis
c. preman
d. ustad
nb : Kalo kalian benar yakinlah, besok besok ada yang mengeksploitasimu :p
Lagu Kalah
Buat kalian yang tidak bisa dipaksa menyerah
Ada titipan kecil
Sepotong tangan yang terlepas dari badannya
Badan entah siapa kemana
Yang jelas ada kulit mati mengapung di air
Titipan kecil takkanlah merepotkan
Bawa saja kemana mana kalian pergi nanti
Biar si kulit mati bisa mati seperti mati yang ia inginkan
Mati senang !
INTO THE WILD
Semua kejadian dituliskan
Sedih,senang,tragedi,bahkan kematian.
Karena hanya ada kau dan alam liar.
Akhirnya...Bahagia nyata bila dibagi
-Christopher McCandless-
Kamis, 10 November 2011
Grind The Heaven's Rail...See You There Ateng :)
Dua tahun lalu disebuah Gigs kecil "Total Hardcore" kita bertemu. Dan dari situ kita mulai cerita dibalik hujan, didalam botol yang berkawan malam dan disetiap canda yang tercipta olehmu, olehku dan oleh temanmu yang satu lagi. Hingga semuanya mulai berubah saat kau sibuk dengan papan skate-mu. Dan itu adalah attitude-mu.
Walaupun belakangan ini kita tak saling berbagi lagi, atau sudah saling memiliki wadah yang baru. Toh buktinya kita masih tetap saling mencari tahu satu sama lain. Terakhir kau menelvon seminggu lalu, saya lupa apa yang kau katakan, suaramu saat itu tidak jelas atau kau lagi dalam keadaan….? Entahlah..
Semua orang memang akan merasa sedih saat mengingat masa lalu. Mengenang masa lalu seakan memandang dari sebuah jendela kamar yang tertutup debu; kita bisa menatap sesuatu, tapi tidak dengan jelas kita memandangnya. Kita bisa menatap sesuatu, tapi tidak dengan jelas kita melihatnya.
Hidup itu memang menyedihkan dan serius. Kita dibiarkan memasuki dunia yang indah. Kita bertemu satu sama lain di bumi, saling menyapa dan berkelana. Bersama untuk sejenak, lalu kita saling kehilangan dan lenyap dengan cara yang sama mendadaknya dan sama tak masuk akalnya seperti ketika kita datang.
Hidup itu memang menyedihkan dan serius. Kita dibiarkan memasuki dunia yang indah. Kita bertemu satu sama lain di bumi, saling menyapa dan berkelana. Bersama untuk sejenak, lalu kita saling kehilangan dan lenyap dengan cara yang sama mendadaknya dan sama tak masuk akalnya seperti ketika kita datang.
Sudahlah, apapun yang kutulis, kuingat dan kukenang tentangmu, itu semua tidak membuatmu bisa mengajakku lagi untuk mendengar Rancid dan Tim Armstrong. Tapi paling tidak aku bisa menjadikanmu “sejarah” bagi diriku sendiri!
Ayolah Indra, tersenyumlah untukku sedikit saja!
Kau adalah salah satu teman terbaikku! Dan kecupan pertama dan terakhir di jidatmu, saat kau terkapar menjadi mayat di rumahmu di depan Ibumu. Miss You, Indra!
Langganan:
Postingan (Atom)





