"Marvin I love you Marvin I love you" Marvin tidak yakin pernah mendengar suara itu sebelumnya, dan dia juga tidak percaya ia sedang mendengar suara itu –saat ini. Karena sebagai sebuah robot yang murung dia tidak pernah benar-benar bisa mendengar, melihat, merasa, berbicara, bahkan berpikir sekalipun. Yang lebih buruk lagi, dia tidak bisa mengingat tombol mana yang baru saja ia tekan. Lalu ia mencoba menekan tombol-tombol yang ada secara acak dan tiba-tiba: "Marvin I love you Marvin I love you Remember I'm programmed for you I know we're worlds apart Still you could break my heart Loving you is all I can do" Saat itu ia baru benar-benar merasa yakin telah mendengar suara yang keluar. Sudah tidak diragukan lagi! Tapi… Suara siapakah itu? Siapa yang mengucapkannya? Apakah ia sebuah robot juga? Atau sesosok bentuk kehidupan dari masa lalu, ketika ia masih muda dan masih ada beberapa orang yang berusaha menyukainya? Dia sama sekali tidak mengetahuinya. Jadi dia berusaha menekan beberapa tombol lagi: "Marvin I love you Marvin I love you" Suara itu lagi. "I've tried to contact you, Marvin I don't know why, but you never replied. Perhaps one day you'll answer, But until then I guess I'll keep on trying." "But that does not compute," pikir Marvin dengan depresinya. Sejak saat itu, ia bisa mendengarkan suara-suara itu kapan pun, sambil terus mencoba memikirkan apa yang sudah ia lewatkan selama ini, dan terus hidup... selamanya dalam kesengsaraan. Kutipan : Sayap Imaji :) |
Sabtu, 03 Desember 2011
Kenangan Cinta Marvin, Si Robot Murung
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar